Seringkali, demi menyatakan kepastian suatu hasil pengukuran, kita mencantumkan banyak desimal di belakang angka aslinya, yah begitulah. Untuk menghindari penggunaan yang salah dan berlebihan, engineer mengemukakan suatu aturan yang disebut angka penting. Aturan yang sering dipakai adalah gunakan sejumlah angka dalam hasij pengukuran sesuai dengan ketidaktepatan yang digunakan dalam pengukuran. Pengukuran pasti memiliki angka penting tidak terhingga, juga angka yang didapat dari perhitungan pasti suatu hubungan matematika memiliki angka penting tak hingga. Jika kita ingin membulatkan suatu desimal, ada aturan sederhana yang umum. Untuk 0-4, bulatkan ke bawah, jadi angka tersebut diubah menjadi 0. Untuk 5-9, bulatkan ke atas, jadi angka tersebut diubah menjadi 1. Contoh untuk 0,09. Kita bulatkan, maka angka tersebut menjadi 0,1. Perhatikan bahwa kecerobohan dalam pembulatan akan menyebabkan kesalahan yang disebut round errors. Untuk mencari angka pasti/penting dari suatu perhitungan, tetapkan jumlah angka penting dari tiap angka, kalkulasi, lalu bulatkan jawaban sehingga memiliki angka penting yang terkecil sama dengan angka yang digunakan untuk mendapatkan angka tersebut.
Angka penting merupakan cara engineer untuk menyatakan suatu nilai, yang selain untuk mengungkapkan seberapa tepat angka tersebut juga menyatakan seberapa besar kesalahan bisa terjadi. Sekian
Minggu, 04 November 2007
Simple Error Analysis
Misalkan kita akan menghitung jumlah uang kita di dompet. Ada 2 lembar sepuluh ribuan, 2 lembar lima ribuan, dan 3 keping lima ratusan. Tentu saja kita mengantongi tiga puluh ribu lima ratus rupiah bukan? Kecuali ada yang ngutang. Sekarang misal kita dalam suatu riset dan diharuskan untuk mengukur panjang suatu pegas. Dengan penuh kepedean kita pilih penggaris sebagai alat ukur kita. Kita akan sadar, seberapa tepat dapat mengukur dengan penggaris. Lalu kita beralih dengan yang lebih canggih. Misal mikrometer. Atau laser. Atau mikroskop elektron. Seberapa tepat hasil pengukurannya? Berangkat dari permasalahan ini, engineer mengemukakan beberapa faktor yang penting dalam menyajikan data pengukuran. Pertama presisi, seringkali ditunjukkan dengan hasil yang hanya berbeda sedikit untuk pengukuran berulang. Akurasi, apakah angka yang didapat mendekati "kebenaran". Random errors, terjadi ketika kita melakukan pengukuran berulang. Walaupun kita "mengekang" diri kita untuk mencapai ketelitian yang sempurna. Systematic errors, terjadi ketika kita melakukan kesalahan dalam metode pengukuran. Ketidakpastian muncul dari random errors yang menyebabkan hilangnya presisi.
Langganan:
Postingan (Atom)